Deddy .ME

Let's Talk About .me

18 April 2010
1Comment

#10: Mati

Meski hari ini hari minggu, yang namanya penyakit ga mengenal hari libur! Jam 7 pagi saya harus sudah stand by di UGD untuk menjalankan tugas selama 12 jam. Begitu pulang, mandi, makan malem… rebahan sebentar… baru deh keluar cape’nya. Badan ini rasanya sudah mau rontok saja! Dan… ugh, tiba-tiba teringat kalau hari ini saya belum posting di blog 365 ini.

Kali ini saya ingin menulis tentang “Mati”.

Salah satu tugas dokter yang menurut saya berat adalah menyatakan seseorang itu “Mati”. Kapan sih seseorang itu benar-benar dinyatakan mati? Pernah ngga ngebayangin kalau hidup Anda begitu dekat dengan kematian orang-orang? Berapa kali Anda pernah melihat orang menghembuskan nafas terakhirnya di depan mata Anda?

Iya, dokter adalah profesi yang begitu dekat dengan kematian. Apalagi bidang Neurologi yang sedang saya geluti. Hampir setiap pasien yang mengalami penurunan kesadaran akan dikonsulkan ke Neurologi. Apalagi kalau penurunan kesadarannya mendadak dengan penyebab yang belum jelas.

Di sini saya tidak akan membahas kapan seseorang itu benar-benar dinyatakan mati. Yang pasti, kami memiliki cara atau kriteria-kriteria untuk menyatakan itu. Saya ingin mengupas dari sisi yang lain.

Saya berpikir, bagaimana sih pandangan orang zaman dulu terhadap kematian? Mungkin Anda pernah mendengar tentang orang yang bisa menghidupkan orang yang telah mati. Atau, ada juga orang yang bisa hidup lagi setelah mati.

Terlepas dari sudut pandang Agama, bagi saya, itu artinya orang tersebut belum “benar-benar mati”. Karena bisa saja, konsep mati zaman dulu berbeda dengan konsep mati saat ini.

Zaman dulu, teknologi kedokteran belum berkembang seperti sekarang. Dari yang sederhana seperti stetoskop yang biasa digunakan untuk mendengar suara jantung sampai ke monitor untuk memantau gelombang jantung, pernafasan, suhu, sampai tekanan darah. Semua itu memberikan pertimbangan yang lebih akurat bagi dokter untuk memantau tanda-tanda kehidupan seseorang.

Meski begitu, tetap saja kita harus waspada terhadap jebakan-jebakan karena ada beberapa kondisi medis yang seolah-olah menyerupai “mati”, namun sesungguhnya “belum mati”.

Jadi, alih-alih percaya begitu saja mendengar ada orang yang bisa menghidupkan orang mati, Anda harus berpikir dulu, “Apa orang itu sudah benar-benar mati?” ;)

 

One Response to “#10: Mati”

  1. Dewa Bantal says:

    Tinggal pilihanmu Ded… cuman pengen tahu kalau dia bener2 mati… atau mau memastikan kalau dia benar2 mati… atau mau membuat dia benar2 mati? hahaha.

    Ada drama jepang, judulnya Jin, tentang dokter UGD di masa kini, time leap ke masa lalu dimana semuanya masih serba traditional, dan yang namanya Surgery belom dikenal. Bagus banget :) tonton deh.

Trackbacks/Pingbacks

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment