#11: Mood dalam Menulis
Saya akui kalau kita membutuhkan yang namanya mood dalam menulis. Meski kebanjiran ide, tapi kalau lagi ngga mood, cukup sulit mengendapkannya menjadi tulisan.
Lalu, bagaimana cara mempertahankan mood itu dalam 365 hari?
Saya tidak tahu! Sungguh, yang pasti saya butuh support nih.
Saat ini saya juga sedang menulis untuk proposal penelitian S2 saya. Secara garis besar sih sudah rampung, namun itu perlu beberapa bulan untuk membuatnya jadi seperti itu.
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumya, mencari bahan untuk penelitian tidaklah sulit. Namun kebanjiran bahan malah membuat saya kelabakan. Saya harus memilah satu per satu, membacanya, dan menilainya apakah layak untuk dimasukkan sebagai bahan kepustakaan atau tidak.
Saya overloaded!
Hmm, mungkin ada benarnya juga kata orang, “Sedikit baca, sedikit tahu. Sedikit pula bingungnya…” Haha…
Semangat!





Aku gak gitu paham dengan yang namanya bikin penelitian buat S2 soalnya gak pernah. Tapi kalau research paper yang biasa sih, biasanya aku begini…
Cari bahan untuk mendukung apa yang sudah kita ketahui, bukan mencari bahan untuk mencari tahu dan mencari sesuatu untuk kita dukung.
Jadi bisa terselektif banget dan yang jelas gak akan terlalu kebanjiran bahan… @_@
Di kedokteran ada yang namanya EBM (Evidence-Based Medicine), jadi ngga semua bahan bisa ditelen mentah2, Ka. Sekali pun itu dari situs2 jurnal international. Makanya musti dibaca dikit2 sambil ditelaah… *cielah bahasanya*